بِسْمِ ا للَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّ حِيْمِ

1.MEMAHAMI WIRID

Menurut syeikh Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajibah Al-Hasani,WIRID secara estimologi berarti minum,menurut istilah;berarti Zikir dan ibadah yang ditetapkan oleh seorang hamba kepada dirinya atau, ditetapkan seorang guru kepada muridnya.

Al-WARID secara estimologi berarti yang mengetuk dan yang datang,sedangkan menurut istilah adalah sesuatu yang dihadiahkan oleh Allah kedalam hati para wali,memberinya kekuatan yang menggerakan kadang membingungkannya atau melenyapkan dari keinderawiannya.Pemberian itu muncul tiba tiba dan tidak terus menerus

Wirid terbagi tiga kategori ; Wirid ahli ibadah dan orang orang yang zuhud dari kalangan mujtahidin, wirid ahli suluk dari kalangan sa’irin dan wirid orang orang yang telah sampai kepada TUHAN dari kalangan makrifat.

Wirid para mujtahidin adalah menghabiskan waktu dengan berbagi ibadah.Ibadah mereka meliputi;zikir,do’a,salat ,puasa.Wirid para sa’irin adalah keluar dari berbagai kesibukan dan kesulitan ,meninggalkan berbagai ketergantungan dan berbagi rintangan,membersihkan hati dari berbagi kejelekan dan aib,serta menghiasinya dengan berbagai keutamakan.Ibadah mereka adalah zikir yang diberikan oleh gurunya.Adapun wirid orang yang telah sampai adalah menjatuhkan hawa nafsu dan mencintai ALLAH.Ibadah mereka berfikir,merenung disertai diam dihadlirat Illahi.

2.LIMPAHAN SPRITUAL ILLAHI – WARID

Syeikh Sa’id Hawa Menjelaskan : bahwa perjalanan hati (ruhani) itu tergantung kepada datangnya warid yang menerangi hati.Warid ini bisa diperoleh dari duduk dihadapan para syeikh dan orang orang saleh.bisa merupakan buah dari amal saleh(khususnya zikir), atau bisa juga suatu kurnia dari Allah .Jika seorang memiliki berbagai wirid,maka berbagai warid akan datang menyelinap ke dalam hatinya,mejadi suatu prinsip, bahwa,warid warid akan mengunjungi seseorang selama ia melakukan amal baik.Maka tak ada satu amal salehpun ,kecuali memiliki warid yang datang di hati sadar ataupun tidak.Namun bersarangnya hijab di hati dapat menghalangi sampainya warid atau tak dapat merasakannya, hingga warid warid itu datang dan pergi lagi.Untuk itu ,agar warid sampai dalam hati dan menorehkan kesan mendalam, maka kita mesti melenyapkan perintang perintangnya.

Dalil Dalil Mengenai WARID

Syeikh Sa’id Hawa (semoga Allah merahmatinya);menjelaskan berbagai dalil yang berkenaan dengan warid ;

Dalil pertama firman Allah dalam surat Al-hujarat:14

قاَ لَتِ اْلاَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤ مِنُوْا وَلَكِنْ قُُولُوْا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْ خُلِ ا لاِْ يْماَنُ فِى قُلُو

بِكُمْ وَاِن تُطِيْعُوْا اللَّهَ وَرَسُوْ لَهُ لاَيَلِتْكُمْ مِنْ اَ عْماَ لِكُمْ شَيْأً اِنَّ اللَّهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ .

“Orang orang badui (penduduk asli) itu berkata;’kami telah beriman’.katakanlah kepada mereka;kalian belum beriman,tapi katakanlah’kami telah berserah diri’.karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian”.(al hujarat :14)

Lafaj لَمَّا dalam bahasa arab itu menunjukan bahwa sesungguhnya itu belum terjadi, tapi nyaris terjadi,untuk itu ,firman Allah yang berbunyi :


ولَمَّا يَدْخُل ِ اَلإ يمَنُ maksudnya bahwa saat itu (iman) belum masuk,namun hampir masuk.Kalau begitu menurut syeikh Sa’id Hawa rahima ullah ,ada sesuatu yang masuk kedalam hati, yaitu iman sebagai akibat dari pelaksanakan amal saleh dalam islam.Pada mulanya melakukan amal saleh dalam islam,dan akhirnya munculah warid keimanan padanya.ini menunjukan bahwa hati itu dimasuki cahaya iman sebagai akibat dari
amal.
Menurut ahli perjalanan menuju Allah inilah yang dinamakan WARID dan mereka menganggapnya masalah penting dalam kaitanya dengan perjalan menuju Allah.

Dalil kedua dijelaskan syeikh Sa’id Hawa rahimaullah,dari Abu Sa’id,ra menuturkan Rasulullah pernah bersabda :

اَلْقُلُوْبُ اَ رْبَعَة ٌ : قَلْبٌ اَ جْرَدُ فِيْهِ مِثْلُ السَّرَجِ يَزْ هَرُ، وَقَلْبٌ اَغْلَفُ مَرْ بُوْ طٌ عَلَى

غِلاََ فِهِ ، وَ قَلْبٌ مَنْكُوْسٌ ، وَقَلْبٌ مُصَفَّحٌ ، فَأ مَّا الْقَلْبُ ا لأَ رَجْرَدُ : فَقَلْبُ المُؤمِن ِ

سِرَاجُهُ فِيْهِ نُو رُهُ ، وَأَمَّا الْقَلْبُ اْلأ غْلَفُ : فَقَلْبُ الْكَا فِ فِرٍ ، وَأمَّا الْقَلْبُ الْمَنْكُوسُ

: فَقَلْبُ المُنَا فِقِ عَرَفَ ثُمَّ اَ نْكَرَ ، وَ أَمَّا القَلْبُ المُصَفَّحُ : فَقَلْبٌ فِيْهِ إِ يْمَا نٌ وَ نِفَا قٌ

، فَمَثَلُ اْلإيْمَا ن فِيْهِ كَمَثَلِ البَقْلَةِ يُمِدُّ هَا الْمَا ءُْ الَيِّبُ وَمَثَلُ النِّفَا قِ فِهِ كَمَثَلِ القَرحَةِ

يُمِدُّ هاَ القَيْحُ دَالدَّ مُ فَأَ يُّ الدَّتَيْن ِ غَلَبَتْ عَلَى ْالاُ ضْرَى غَلَبَتْ عَلَيْهِ .

“Hati itu ada empat macam :hati yang bersih bagaikan pelita yang berkilauan, hati yang tertutup dan terikat tutupnya, hati yang terbalik,dan hati yang lebar.Hati yang bersih adalah hati seorang mukmin, dimana pelita yang ada di dalamnya merupakan cahaya baginya.Hati yang tertutup adalah hati orang kafir.hati yang terbalik adalah hati orang munafik yang tahu tapi mengingkari.Sedang hati yang lebar adalah hati yang didalamnya ada keimanan dan kemunafikan.Tamsil keimanan yang ada padanya bagaikan sayuran yang dimasukan dalam air yang bersih ,sedangkan kemunafikan yang ada padanya bagaikan luka yang dicelupkan kedalam nanah dan darah; manakah yang dapat mengalahkan yang lainya,itulah yang menguasainya”.
( HR Ahmad )

Menurut syeikh Sa’id Hawa ,hadits ini menunjukan bahwa hati yang lebar itu memuat keimanan sekaligus kemunafikan; amal saleh membawa kepada keimanan, sedangkan amal buruk menghantar kemunafikan.Jika kemunafikan menang dan menguasai – kita berlindung kepada Allah darinya-maka hati tersebut akhirnya terbalik.Yang terpenting disini adalah, ada WARID yang akan datang ( masuk ) ke dalam hati sebagai akibat dari amal saleh.

Dalil yang paling gamblang menurut syeikh Sa’id Hawa adalah firman Allah dalam surat An nur:35 :

“Allah adalah (pemberi ) cahaya bagi langit dan bumi.Perumpamaan cahaNYA,adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang didalamnya ada pelita besar.Pelita itu didalam kaca(dan) kaca itu seolah olah bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya,(yaitu)pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah timur (sesuatu ) dan tidak pula disebelah barat (nya),yang minyaknya (saja) hampir hampir menerangi,walaupun tak disentuh api.Cahaya diatas cahaya ( berlapis lapis).Allah membimbing kepada cahaya NYA siapa yang dikehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamakan bagi manusia,dan Allah maha mengetahui segala sesuatu “. (An nur :35 ).

Yang menjadi dalil dari ayat ini menurut syeikh Hawa adalah :“dinyalakan dengan minyak dari sebuah pohon yang banyak berkahnya “.Sebagian ulama menafsirkannya dengan rosul, sebagian lagi menafsirkan dengan syariat, dan ulama lain menafsirkan dengan orang saleh.Cahaya yang ada di hati manusia itu dinyalakan dari pohon yang banyak berkahnya;cahaya ini akan menyala sesuai dengan penyebabnya,yaitu tingkat pengamalan seseorang terhadap syari’at dan kadar kedekatan seorang dengan ahli syari’at.Dan bila cahaya syari’at itu putus, apa yang terjadi? pelita itu akan padam.dan kita berlindung kepada Allah dari hal itu.

Kedudukan WARID dalam menempuh perjalanan menuju Allah dijelaskan oleh Ibnu ‘Atha’illah dalam penggalan kata kata hikmahnya :

‘Sesungguhnya Allah mendatangkan WARID kepadamu, agar engkau datang menghadap ke hadiratNYA.Allah mendatangkan WARID kepadamu,agar DIA menyelamatkanmu dari genggaman duniawi .Allah mendatangkan WARID kepadamu, agar DIA mengeluarkanmu dari penjara wujudmu ke alam bebas suhudmu”.

Warid adalah limpahan spiritual sebagai akibat atau perolehan dari WIRID.Untuk itu selagi kita melazimkan WIRID, yaitu melakukan hal hal yang baik, maka disana ada WARID.WIRID bukan hanyan dzikir, bahkan semua perbuatan baik yang kita kerjakan potensial untuk membuahkan WARID.Membaca Al qur’an, berkhitmad untuk kepentingan umum, berjihad dan segenap amal saleh yang kita tunaikan ada WARID nya yang menyelinap kedalam hati kita.Namun yang paling potensial menghasilkan WARID adalah duduk bersama ahli perjalanan menuju Allah, duduk di majlis ilmu dan dzikir.Hal ini jelas sekali disebutkan dalam hadits :

وَماَ اِجْتَمَعَ قَوْ مٌ فِى بَيْتِ مِنْ بُيُو تِ اللَّهِ يَتْلُو نَ كِتَا بَ اللَّهِ وَيَتَدَا

رَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلأَ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَ غَشِيَتْهُمُ الرَّ حْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ

الْمَلاَ ئِكَةُ وَ ذَ كَرَ هُمُ اللَّه فِيْمَنْ عِنْدَهُ .

Wa maa ijtama’u qoumun fii baiti min buyuuti llahi yatluuna kitaaballahi wa yatadaa rosuulahu bainahum illa nayalat ‘alahimussakiinatu wa ghasiyathumu rrohmatu wa khoffathumul malaaikatu wa dzakaro humullah fiiman’indzahu.(HR Muslim).

“Tidaklah suatu kaum berhimpun di salahsatu rumah Allah sambil mereka membaca kitabullah dan saling menderasnya diantara mereka,melainkan turun ketenteraman pada mereka,diliputi oleh rahmat dikelilingi oleh para malaikat,dan Allah menyebut nyebut mereka pada makhluk(malaikat) yang ada disisiNYA (HR..Muslim)

Allah juga berfirman dalam surat Al-Fath :4 ;

هُوَالَّذَيْ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِي قُلُو بِ المُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُ وْاِيْماَ نًا مَعَ اِيماَ

نِهِمْ وَاللَّهِ جُنُوْدُ السَمَوَاتِ وَالاَرْضِ وَكَا نَ الَّلهُ عَلَيْماً حَكِيْماً .

“Dialah yang menurunkan ketenteraman dihati orang orang yang beriman, agar keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka (yang sudah ada()Al Fath :4)

Pengaruh langsung dari turunnya ketenteraman adalah bertambahnya iman.Untuk itu apabila ahli al-qur’an berhimpun melantunkan kallamullah, maka buahnya bisa dipetik dengan melimpah ruahnya keimanan yang dicurahkan kedalam hati mereka.Tiap amal memiliki WARID nya masimg masing dalam hati ,yang satu sama lainnya kadang berbeda.Zakat misalnya WARIDnya adalah membersihkan hati dari kekikiran

Selanjutnya syeikh Ibnu Atha’illah berkata bahwa Allah mendatangkan WARID kepada hambaNYA yang beramal saleh,namun beliau juga mengingatkan : jika aku berbicara kepada kalian mengenai warid , itu artinya bahwa warid warid memang akan datang kepada kalian,jika hal itu belum terjadi itu pertanda bahwa hatimu perlu pembersihan, agar kalian tidak menyangka memiliki warid.”

Ungkapan hikmah Ibn Atha’illah selanjutnya adalah: “Sesungguhnya Allah mendatangkan WARID kepadamu, agar engkau datang menghadap kehadliratNYA”.Kalau Allah menyusupkan WARID kepadamu, dan melimpahkan cahaya-cahaya di hatimu, itu agar engkau mau menghampiri-NYA, menghadap-NYA, dan mengharap keridlaanNYA.Dan perolehan WARID yang datang dihati itu sesuai dengan kekuatan hati kita dalam ber tawajjuh kepada Allah.Jika tawajjuh kita kepda Allah lemah maka warid yang kita terimapun masih rapuh.

Syeikh Sa’id hawa rahimaullah menjelaskan ;kehadiran warid pada kita juga membuahkan kesan kedua, yaitu sebagaimana tersimpul dalam ujaran syeikh Atha’illah ; “Allah mendatangkan WARID kepadamu, agar DIA menyelamatkanmu dari genggaman duniawi dan membebaskankanmu dari perbudakan alam”.Allah menganugerahi WARID dihati seorang untuk mengeluarkannya dari tangan segala sesuatu selain ALLAH.Seorang yang tidak sampai kepada peringkat ‘UBUDIYAHyang sempurna kepada Allah melalui ma’rifat yang sempurna kepada –NYA dan ikhlas karena-NYA melalui pelaksanakan terhadap hak hak ketuhanan, maka ia seorang budak.Engkau akan menjumpai seseorang yang menjadi budak nafsunya, budak masyarakat, budak dunia, budak pikiran, dan budak uang.Jika seseorang masih menjadi abdi sesuatu maka warid yang diperolehnya lemah.Karena itu lazimkan mengamalkan berbagi WIRID, sebab jika tak ada WIRID maka WARIDpun tak ada.

Ungkapan “perbudakan alam”adalah terjemahan dari “riqqul atsar”.Atsar adalah segala sesuatu selain Allah.Allah berfirman dalam surat Ar-rum :50 :

فَاَ نْظُرْ اِلَى اَثَرِ رَحْمَتِ اللَّهِ…………..

“Maka perhatikanlah atsar ( berkas berkas ) rahmat Allah ………..

Atsar itu memperbudak seseorang dengan berbagai cara.Manusia, keindahan alam, dan segala sesuatu yang dibumi ini termasuk ATSAR Allah.Selagi orang menjadi abdi dari sesuatu selain Allah,berarti WARID itu tak bersemayam dihatinya.Ini menunjukan WARID warid yang dituangkan dalam hati itu memang sempat singgah didalam hati, tapi setelah itu pergi.

Akibat atau pengaruh yang ketiga dari WARID adalah sebagai yang dikatakan Ibnu Atha’illah :”Allah mendatangkan Warid kepadamu agar DIA mengeluarkanmu dari penjara wujudmu kea alam bebas syuhudmu.Merasakan wujud, bagi para filosof menurut syeikh Said Hawa adalah titik awal, bahwa ada kepastian dalam berinteraksi dengan alam ini.Tapi jika kau merasakan wujudmu dengan melalaikan Allah, maka hal ini akan menumbuhkan ‘ujub (bangga kagum kepada dirinya sendiri) dan membuatmu tertipu.Bahkan nyaris segala penyakit hati itu bermuara dari perasaan seseorang terhadap eksistensi dirinya dengan melalaikan Allah.Jika sesorang keluar dari dominasi wujud dirinya dan beralih ke syuhud yang membebaskannya dari segala macam penyakit hati dan segala dorongan duniawi-yaitu nafsu yang menyeret dirinya.Karena itu syeikh ‘Atha’illa berkata :“Kealam bebas syuhudmu”.Artinya hingga engkau beribadah kepada Allah seoalah olah engkau melihatNYA.

Setiap bagian dunia ini, jika tidak sesuai dengan parameter Syara’ maka akan memperbudak dan akan menjauhkan kita dari maqam ‘Ubudiyah kepada Allah.Karena didalamnya menyimpan berbagai macam perihal duniawi yang bisa melalaikan, seperti permainan dan kesenangan yang diharamkan.Dan syeikh Said Hawa mengingatkan ; Tapi jangan ekstrem, karena ada juga urusan dunia yang diperbolehkan.Maka urusan dunia itu harus diselaraskan dengan perintah Allah, dengan tidak mendekati urusan duniawi kecuali kau turutkan hatimu kepadanya dan menggantungkan sepenuhnya kepada Allah.Namun jika engkau tertambat dengan perkara duniawi, lalu kau turutkan hatimu kepadanya, maka inilah yang menjadi salah satu faktor yang menjauhkan dirimu dari MAQAM ‘UBUDIYAH.Kemudian syetan yang selalu berusaha untuk menjerumuskan manusia dengan dunia dan nafsupun datang kepadamu dengan cara yang engkau sukai untuk memalingkan sama sekali dari maqam “UBUDIYAH”.


About these ads