Terlalu panjang jika aku tulis bagaimana sampai ayahku mendapatkan “MAUNAH” atau Ilmu “LADUNI” dari ALLAH SWT.yang jelas karunia ini diberikan karena kekhusukan , ketulusan dan keiklasan ayahku dalam menjalankan ibadah kepada ALLAH SWT.
Keikhlasan, kekhusukan dalam menjalankan ibadah itu bukan lantaran ayahku seorang yang suci,atau seorang yang hebat, tetapi kekhusuan beribadah lantaran ayahku mengalami (dalam bahasa sekarang ) depresi total, karena perjalanan hidupnya tidak mulus.

Perjalanan hidupnya yang tidak mulus dan aku catat sepanjang hidup saya adalah ,kebangkrutan usaha ibuku yang menghabiskan semua hartanya, nyaris untuk makan sehari hari tidak ada.disinilah cobaan terus menerpa kehidupan ayah ibuku ,bahkan ada orang yang menawarkan diri untuk menjadikan ibuku istri simpanan dan dijanjikan semua hutang akan dilunasi sampai ada juga yang menawarkan jalan pintas dengan memuja setan atau “pesugihan”.namun semua itu tidak menggoyahkan orang tua ku untuk keluar dari jalur ALLAH SWT.Justru keadaan itu memacu ayahku untuk beribadah lebih khusuk,merubah kebiasaan beribadah lebih dalam yang pada akhirnya lebih dekat dengan ALLAH SWT dan dikurunia “MAUNAH dan ilmu LADUNI, dan dekat dengan RUH PARA WALI dan ruh orang yang dirahmati ALLAH SWT dan di izinkan ALLAH SWT hidup di dua alam.Dan yang paling aku kagumi dengan izin dan rahmat ALLAH SWT. beliau di izinkan bertemu dengan rasulullah MUHAMMAD S.A.W ketika menunaikan ibadah haji (SUBHANALLAH),tahun 2002 dan diajak ke Jabal Nur (gua Hiro’),dan menerima “tauziah” betapa binggungnya saya waktu itu kehilangan sementara ayah saya di masjidil HARAM.Baliau dipanggil lagi melaksanakan ibadah UMROH 2004 pada saat Maulid nabi, dan Alhamdulilah saya bisa mengantar bersama isteri dan ibu saya.Insya ALLAH kisah UMROH ini akan kami ceritakan tersendiri.

KEBIASAAN BERIBADAH ALA SUFI

Ayahku seorang yang sangat ketat dalam menjalankan syariat agama Islam dari koleksi buku-bukunya aku tahu beliau pengagum KH A Hassan dari Bangil (Persatuan Islam ) seorang kyai yang sangat ketat terhadap bid’ah di masanya.Pengetahuan agamanya didapat dari sekolahnya dimasa muda MAMBA’UL ‘ULUM salah satu sekolah agama terkenal di Solo waktu itu.kemudian dikembangkan dengan bacaan buku-buku termasuk karya KH A.HASSAN.
Dalam menjalankan ibadah rutinnya beliau sangat ketat berpedoman terhadap fiqih.Dan ketika persoalan hidup menerpanya beliau mulai menerapkan ibadah sesuai pedoman fiqih.Tahlil, tawasul ( membacakan /menghadiahkan bacaan AL Fatihah ). ziarah qubur dianggap Bid’ah dalam pandanganya saat itu.Walupun pada akhirnya pandangan itu berubah setelah beliau masuk maqom hakekat ( dalam pandangan tassawuf )

Kebiasaan yang pertama saya lihat adalah ; rutin menjalankan shalat malam, tiap hari hampir tidak pernah putus , karena memang beliau sangat ketat mengatur jadwal tidurnya; setelah salat isya’ jam 9.00 mulai berangkat tidur, jam 12 .00 malam mulai bangun dan menjalankan shalat malam beliau tidur di luar rumah (emperan), sampai menjelang tidur

Kebiasaan yang kedua; beliau menjalankan shalat secara khusuk dari lahiriah terkesan lama sekali dan kemudian diikuti dengan shalat sunat rawatib.

Kebiasan yang ke tiga; beliau menjalankan rutin puasa sunat Senin- Kamis nyaris tanpa putus

Kebiasaaan yang ke empat dan ini dilaksanakan setelah ketiga kebiasaan itu berlangsung bertahun tahun, baru kebiasaan ke empat ini dilakukan yaitu pusa nabi Dawud (satu hari puasa dan satu hari tidak)

ke empat kebiasan itu dilakuakan bertahun tahun dan terkesan secara lahiriah tak ada manfaat yang berkait apalagi dengan problem hidupnya dan anehnya beliau tak pernah berhenti dari kebiasaan itu.Semangat hidupnya tak pernah kendur walau perjalanan hidupnya terhantam badai dan merubah kehidupannya

Dari sisi kehidupannya jelas berubah drastis kebiasaan yang serba ada menjadi serba kekurangan.bahkan kehidupan sosialpun berubah, keluarga dan masyarakat banyak yang menjauh bahkan ada yang merasa malu dengan kehidupannya.

Itulah ujian terberat,  sekaligus sebagai sarana Allah untuk menempatkan ayah pada maqom yang lebih nulia. kini keadaan berbalik, banyak yang menunggu nasehatnya, menunggu tauziahnya, dan menunggu restunya.

Peri laku sederhana, taat dan konsisten menjalankan ibadah serta ikhlas dalam menerima takdir . sabar dalam menerima cobaan, qonaah, istiqomah itulah awal menjalankan laku tassawuf.