1.GODAAN SYAITHAN PADA MAQAM ASBAB DAN TAJRID

Dalam memberikan paparan tentang tajrid dan asbab,Ibnu ‘Abbad mengatakan :tanda bahwa Allah menempatkan seseorang dalam asbab ialah hal itu berjalan terus menerus dan nampak buah dan hasilnya,yaitu sibuk dengan sebab sebab itu ia mendapati keselamatan dalam agamanya, hilang ketamakan terhadap milik orang lain,memiliki niat yang baik untuk menjalin hubungan silaturahmi.menolong orang fakir dan cara cara lain dalam memanfaatkan harta yang berkaitan dengan agama.Dan ciri bahwa Allah menempatkan kita pada TAJRID adalah :dawam ( berlangsung terus menerus ) dan bisa dipetik buahnya, yaitu ketenangan hati ketika melakukan tajrid, kejernihan hati,merasakan ketenangan dengan tidak bergaul dan bercengkrama dengan makhluk.

Dalam perjalanan menuju Allah syaitan akan selalu mnggoda dan merayu dengan sangat lembut, seperti ketika menggoda nenek moyang kita nabi Adam AS. sehingga beliau harus keluar dari surga.seperti yang diingatkan Allah dalam surat al ‘Araaf 20 – 21 : “ Dan syaetan berkata :Rabb kamu berdua tidak melarangmu berdua mendekati pohon ini melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat dan tidak termasuk orang orang yang kekal ( dalam surga ).DAN ia ( syaitan) bersumpah kepada keduanya”sesungguhnya aku bagi kamu berdua termasuk orang orang yang memberikan nasihat”.

Demikia juga syaitan juga membisikan kedalam orang yang ber tajarud, dengan kata kata : “”sampai kapankah kamu meninggalkan asbab? tidakah kalian tahu, bahwa meninggalkan asbab itu membuat hati melirik pada milik orang lain, lalu pintu ketamakan terbuka, lantas kalian tidak mampu memenuhi kebutuhan diri sendiri dan tidak melaksanakan kewajiban kewajiban? sebagai ganti engkau menunggu  terbukanya pinti rezki untukmu dari orang lain .Jika engkau mau memasuki asbab, maka orang lainlah yang akan menunggu pintu rezki darimu!”.dan banyak  rayuan lainnya.Padahal hamba tersebut telah memperoleh ketenangan, terpancar cahayaNya, dan telah merasakan ketenangan dengan cara meninggalkan makhluk.Maka ia akan selalu dalam kondisi seperti itu hingga ia kembali berada pada asbab, lalu ia diterpa kekacauan dan kegelapan.Kondisi orang yang tetap berada pada asbab –nya lebih baik darinya, sebab ia tidak menempuh suatu jalan lalu kembali darinya,dan iapun tidak mengarah ke suatu tujuan tertentu lalu berpaling.Maka pahamilah dan perpeganglah pada Allah:

“Dan barang siapa yang berpegang teguh kepada Allah, maka sesunggunhnya ia dibimbing ke jalan yang lurus “.(S.Ali ‘Imron:101).

Dengan cara ini syaitan bermaksud untuk merintangi para hamba dari keridlaan Allah tentang apa yang mereka tempati (maqam), dan ingin mengeluarkan mereka dari pilihan Allah menuju pilihan mereka sendiri.Padahal jika Allah memasukanmu pada sesutu (maqam), maka Allah akan menolongmu atas hal itu;sedang jika engkau memasuki sesutu(maqam) lantaran keinginanmu sendiri,maka hal itu akan di bebankan kepadamu.

“Dan katakanlah :”Wahai Tuhanku, masukan aku dengan cara yang benar, keluarkan aku dengan cara yang benar, dan berikanlah padaku dari sisi-MU kekuasaan yang menolong”’(al-Isra’:80).

Cara masuk yang benar ialah,engkau dimasukan ( oleh Allah)ke dalamnya (maqam),bukan atas keinginanmu.Hal yang sama juga menyangkut cara keluar yang benar.Pahamilah hal ini Yang dituntut oleh Allah ialah agar engkau tetap berada posisi dimana Allah menempatkanmu (maqam),hingga Allah sendiri berkenan untuk mengeluarkanmu sebagaimana IA telah memasukanmu.Sejatinya ialah bukannya engkau keluar dari asbab, namun engkau ditinggalkan oleh asbab.

Demikianlah ahwal shidiqun; mereka tidak keluar dari suatu yang mubah, hingga Allah berkenan mengeluarkan mereka.

2.ANTARA HIMMAH DAN TAKDIR

Ada seorang syeikh mengkhawatirkan seorang yang menyangka bahwa kehendak kuat (himmah) bisa memusnahkan dinding takdir .Dalam hal ini syeikh Ibn ‘Atha’illah mengatakan :’Kehendak progesif ( sawabiq al-himam) tidak akan membakar dinding takdir”.

As sawabiq dalam ungkapan diatas adalah bentuk jamak dari sabiqah, berarti bergerak maju.Dan al himam adalah jamak dari himmah berarti kehendak kuat yang mendorong hati untuk mencari sesuatu dan memperhatikannya.Sawabiq al himam termasuk dalam adlafah (penyandaran )antara yang disifati dengan sifatnya,yakni cita cita yang maju tidak akan membakar dinding dinding takdir,Jika orang yang berma’rifat atau belajar ber cita cita terhadap suatu hal dengan kehendak yang kuat untuk mendapatkannya.maka Allah akan merealisasikan perkara itu melalui kuasa-NYA dalam sekejap,sehingga urusanya atas perintah Allah.

Orang orang yang bekerja untuk kepentingan umum harus menanamkan keyakinan menerima takdir di hati mereka,yaitu dengan memasrahkan segenap urusan kepada Allah.sejak awal sampai akhir perjalanan.mereka juga harus membulatkan hati bahwa mereka tidak berdaya melalui dan menembus alam asbab.

Kekuatan himmah tidak akan mampu menembus dinding takdir.Betapapun tinggi himmahmu,namun ada kekuasaan yang tidak bisa ditembus oleh himmah.Maka wajiblah menyerahkan segalanya kepada Allah, dan kita harus tahu bahwa ada takdir yang menentukan, ada sebab sebab yang telah ditentukan dan ada pula perjalanan takdir yang tak seorangpun dapat mengubahnya.Karena itu anda harus mematuhi kewajiban kewajiban dan memperhatikan tujuan tujuan tersebut semaksimal mungkin.Inilah yang melahirkan  keinsyafan kita bahwa ternyata ada tirai yang membatasi segenap tuntutan kita.

Melihat keterangan diatas, maka segala sesuatu tidak akan terpisah dan terbentuk kecuali telah diliputi oleh qodlo dan qadar.Jadi, kehendak kuat orang makrifat terhadap suatu perkara,jika terbukti bahwa qadlo telah mendahuluinya, berarti kehendak berjalan sesuai izin Allah.Dan jika terbukti bahwa dinding takdir telah ditetapkan untuknya,maka kehendak itu tidak menghancurkannya,melainkan mengikuti jejaknya dan kembali kepada sifat dasarnya, yaitu hamba.maka jangan merasa cemas dan sedih.Tetapi kadang engkau bahagia karena kehendak itu kembali, menetap dan kokoh pada sfatnya.Sayyidina ‘Ali k,w.pernah berkata :”Ketika kita mengatakan sesuatu perkara dan terbukti,kita merasa senang satu kalidan jika tak terbukti.kita merasa senang sepuluh kali’.Pernyataan itu keluar karena aktualisasinya dalam makrifat kepada Allah.