1.MEMAHAMI TADBIR DENGAN BENAR

Syeikh ibn ‘Atha’ilah as Sukandari memaparkan mutiara hikmah tentang tadbir (mengatur dan mengurus perkara duniawi) didalam al hikam, namun menurut syeikh Sa’id Hawa banyak paparan hikmah itu disalah artikan oleh kebanyakan orang.dan akibatnya muncullah semacam gambaran yang salah yang menimbulkan pengaruh buruk dalam tata kehidupan islam,dan pada akhirnya akan memunculkan dampak berbahaya terhadap penegakan hak Allah,juga terhadap peradapan dan kebudayakan islam pada umumnya.

“Istirahatkan dirimu dari melakukan tadbir(mengatur dan mengurus perkara dunia).Sesuatu yang telah ditangani oleh selain dirimu (Allah),jangan engkau menangani”.

“Kesungguhanmu untuk memperoleh apa yang telah dijamin untukmu, serta kelalaianmu untuk melakukan apa yang dibebankan oleh selain kepadamu,itu adalah tanda kebutakan bashirah”.

Sebagian orang memahami kata kata hikamh tersebut sebagai berikut :”wahai orang muslim,engkau tak usah bertadbir, sebagian kaum muslimin telah memiliki kesempurnaan tanpa ber tadbir, sebagian lagi mempunyai kekurangan padahal ia bertadbir”.Kesempurnaan disini maksudnya ialah meninggalkan semua urusan lantaran berlebihan.Prinsip ini bertentangan denga tugas yang diberikan Allah, sedangkan kata hikmah tersebut ditinjau dari susunan kalimatnya tidak menunjukan hal itu.

Pada dasarnya seorang muslim dituntut untuk menyempurnakan tadbir tentang apa yang dibebankan kepadanya.seperti tersebut dalam hadits:

ا“Innallaha yukhibbu minal ‘abdi idzaa ‘amilaan an yutqinahu “.

“Sesungguhnya Allah menyukai seorang hamba yang bila ia melakukan sesuatu pekerjaan ia lakukan dengan profesional”.(HR.Abu Ya’la dan al-‘Askari ).

Jika demikian lalu apa maksud paparan hikmah ibn ‘Ata’ilah tersebut,dalam syarahnya syeikh Sa’id Hawa menjelaskan : ibn “atha’ilah  ingin menempatkan kita pada maqam shidiqiyah dalam beramal.Maqam shidiqyah bukanlah mencampakan tadbir, namun mencurahkan pemikiran suatu macam tadbir dan meninggalkan macam tadbir yang lain.

Seorang Shidiq (benar) melakukan segala sesuatu dengan menganggap bahwa itu adalah taklif ( beban kewajiban ) dari Illahi.Selanjutnya rangkaian hidupnya hanya melakukan taklif Illahi.Sebagai ganti tadbir, yaitu tadbir yang timbul dari diri sendiri, maka bertadbirlah dalam rangka melaksanakan taklif.

Banyak profesi kaum Muslimin yang sebenarnya hal hal yang tergolong fardlu kifayah .Dokter misalnya;ia melaksanakan fardlu kifayah (menolong orang sakit).Tapi ada perbedaan antara dokter yang pergi ke tempat praktek dan hanya punya satu tujuan, yaitu meraih profit untuk menambah hartanya, dengan seorang dokter yang menganggap tindakan medis yang dilakukan tidak lain hanya melaksanakan taklif Illahi (menolong orang sakit ).Adapun Shidiqun lebih dari itu; dia tidak hanya memiliki satu niat,tapi mereka menginginkan beberapa niat baik dalam setiap hal yang dilakukan ( mencari penghasilan dan sekaligus menolong orang sakit sabagai keawajiban/taklif ).

Karena itu,banyak ragam manusia;ada orang yang melaksanakan sesuatu tanpa niat, ada orang yang melakukan sesuatu dengan niat duniawai saja, ada yang mengerjakan sesuatu deggan niat ukhrawi saja,dan ada pula orang yang mengerjakan sesuatu dengan beberapa niat sekaligus.Maqam Shidiqiyah membuat pemiliknya melakukan satu pekerjaan namun menggondol berbagai niat.Tadbir shidiqun membatasi amal amal mereka sebagai suatu taklif banyak niat yang  menempel untuk satu amal.menurut syekh Sa’id Hawa inilah makna yang dikehendaki syekh ‘Atha’illa;ada segolongan orang yang tidak bertadbir kecuali untuk dunia mereka,ber tadbir untuk kesehatan mereka,untuk makanan mereka ,tadbir semacam ini mubah,dan sekh kita tidak melarang kita dari tadbir,sebab dengan tadbir tegaklah kehidupan insani.

Syekh ‘Atha’illa menghendaki:”Wahai manusia rezki dan kehidupanmu sudah dijamin”.karena itu janganlah tadbirmu ditujukan semata mata untuk hal hal yang sudah dijamin bagimu, namun jadikan tadbir mu untuk apa yang diharuskan kepadamu.Tanda kebutaan bashirah ialah jika manusia sibuk dalam hal hal yang telah dijamin oleh Allah,namun lalai terhadap apa yang diharuskan kepadanya.Oleh karena itu hendaklah engkau menjadikan amal amalmu dalam hal hal yang dituntut darimu,sementara hal yang dituntut darimu meliputi dunia dan akhirat.dan ada perbedaan tadbir lantaran untuk melakukan taklif dari Allah dengan tadbir karena untuk meraih perkara duniawimu.

Berada pada maqam asbab duniawi menuntut adanya tadbir,maka kata kata berikutnya berkenaan dengan tadbir terhadap apa yang dituntut dan meninggalkan dengan tadbir untuk sesuatu yang telah dijamin, semua itu memperkokoh maksud dari kata bijak ini ;Supaya engkau tidak bertadbir karena urusan duniawimu atau karena dorongan pribadi, namun hendaklah engkau ber tadbir karena kewajiban rububiyah.Maka dengan demikian engkau berada pada maqam ‘Ubudiyah.

2.MACAM MACAM TADBIR

Syeikh Ahmad bin Muhammad bin Ajibah al-Hasani memaparkan TADBIR menurut bahasa adalah:mempertimbangkan segala urusan dengan berbagai konsekwensinya.sedangkan menurut istilah seperti dikemukakan oleh Syeikh Zaruq r.a. adalah:mengatur,dengan menetapkan dan memastikan,segala urusan masa datang dengan memastikan ihwal sesuatu yang dicemaskan atau diharapkan dan tidak meyerahkan urusannya kepada Allah swt

Tadbir yang diwajibkan ialah bertadbir tentang berbagai kewajiban yang ditaklifkan kepadamu dan perihal berbagai ketaatan yang dianjurkan kepadamu,disertai dengan menyerahkan kehendak dan mengacu kepada qudrah Illahi.Inilah yang dinamakan niat yang saleh sebagaimana sabda rosulullah : “NIYATUL MUKMINI KHAIRUM MIN ‘AMALI “.(Niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya).

Tadbir yang mubah adalah bertadbir dalam urusan duniawai dibarengi dengan penyerahan terhadap kehendak Allah dan melihat pada qudrah yang terlihat,tanpa niat terhadap hal hal lainya.

Tadbir yang tercela adalah sesuatu yang menyibukan sehingga melalaikan Allah,melalaikan dari menunaikan pengabdian kepada Allah dan mencegahmu dari berhubungan dengan Allah.Sedangkan tadbir yang terpuji ialah yang menyebabkanmu dekat dengan Allah.

Syeikh Sa’id Hawa perpendapat;ber tadbir dalam segala hal yang baik dan mubah, yang dianjurkan dan wajib atau fardlu,itulah yang dituntut dari seorang Muslim seperti termaktub dalam hadist :”sesungguhnya Allah menyukai seorang hamba,yang bila melakukan suatu amal ia tunaikan dengan profesional”.

Namun demikian amal shidiqun hendaklah disertai dengan niat sebab niat itu menjadi ‘adat (hal hal biasa yang bukan ibadah) sebagai ibadah.Tadbir yang harus diingkari adalah bertadbir terhadap apa apa yang diharamkan dan membahayakan,atau bertadbir karena kepentingan pribadi dan kepentingan dunia.Dan Tadbir yang mubah dengan tidak disertai niat memang tidak mengapa namun bukan adab maqam SHIDIQUN.

wordpress.com Tags: , , ,