بِِسْمِِ اللَّهِ الّرَحْمَنِ الرَّ حِيْمِِ

1.MEMAHAMI DAN MELAKUKAN TAKLIF DENGAN BENAR

Ketika melakukan taklif yaitu melaksanakan kewajiban – kewajiban terkadang buah hasil yang kita lakukan tersebut tidak segera nampak,sehingga seolah olah apa yang kita lakukan tersebut tak bermanfaat.Gambaran ini sering terjadi dalam melaksanakan amal yang bersifat umum semisal da’wah, jihad dan perjuangan dalam Islam yang menuntut adanya perkembangan dan terus menerus.

Manusia menghendaki sekarang menanam besok menuai, sehingga tergesa gesa.seperti di isyaratkan oleh Allah dalam al qur’an :

….
وَكاَ نَ اْلاِ نْسَا نُ عَجُوْ لاً……Dan manusia bersifat ter gesa gesa”(Al-Isro’:11).

Padahal beberapa hal engkau dapat menanam hari ini dan besuk menunai hasilnya namun ada hal lain jika kita menanam hari ini hasilnya baru dipetik 15 tahun kemudian.seperti pohon zaitun.Ada juga sejenis buah yang tidak mungkin jadi kecuali setelah beberapa masa, dan jika engkau tergesa gesa tidak bermanfaat, bahkan jika tergesa gesa memetiknya pohon itu akan mati.Ada sunah Illahiyah yang harus kita perhatikan sebab Allah menjadikan taklif Illahi berkaitan dengan sebab,dan tidak bertautan dengan hal hal yang luar biasa.

Apakah kita diberi taklif lantaran ada hal hal yang luar biasa (menembus alam asbab) atau kita diberi taklif dalam alam asbab yang terkadang Allah mendatangkan hal hal yang luar biasa.Pada dasarnya taklif berada di dalam alam asbab, terkadang Allah menembus alam asbab mu dan terkadang tidak.Karena itu ketika kita melakukan taklif hendaklah kita memperhatikan sunah sunah Allah,dan sunah sunah Allah itu kadang kadang menuntut terlambatnya beberapa masalah.

Seringkali terjadi orang orang yang beramal untuk kepentingan umum,misalnya;dakwah, pendidikan ,jihad, cepat cepat menginginkan buahnya.Ketergesaan mereka untuk memetik buahnya itu bukan prinsip bagi kehidupan muslim, sebab buah buah itu tergantung Allah,dan Allah yang memiliki hak untuk memutuskan.Ada seorang rasul yang dikumpulkan ( di padang Mahsyar) bersama seorang ( pengikut),ada yang dikumpulkan bersama dua orang, dan ada pula yang dikumpulkan tanpa seorangpun bersamanya.Jika kita bekerja untuk kepentingan umum,lalu sering kita dapati hasilnya tidak segera terwujud dan acap kali terlambat, maka apakah yang harus kita perbuat dalam kondisi seperti ini? Haruskah menyerah dan putus asa? Lalu meninggalkan pekerjaan itu? Atau terus bekerja dengan sabar?l antas kita sempurnakan pekerjaan itu dan kita analisis dengan seksama adakah kekurangan.Dalam hal ini Allah berfirman :

“Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa.Mereka (tidak) menjadi lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak ( pula) menyerah (kepada musuh).Dan Allah mencintai orang orang yang sabar.Dan tidak ada do’a mereka selain ucapan : Ya Tuhan kami, ampunilah dosa dosa kami dan tindakan tindakan kami yang berlebihan (dalam ) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang orang kafir”.(Ali ‘Imron: 146 – 147 ).

Syeikh Ibnu ‘Atha’illah memperingatkan kita: jika kita beramal hendaklah tidak putus asa,tidak meninggalkan pekerjaan itu dan hendaklah terus menerus megerjakannya dalam kondisi apapun meskipun hasilnya lambat.Allah menjanjikan pertolongan kepada kaum mu’min :

“……Adalah wajib bagi KAMI untuk menolong orang orang Mu’min”.(Ar –Ruum : 47 )

Karena itu jika kita sudah beramal, namun pertolongan belum datang,maka janganlah membuat bimbang terhadap janji Allah, bahkan kita harus tetap beramal.

Apabila kita ingin tahu perbedaan antara shaadiq ( orang yang benar ) dan kaadzib (orang yang bohong), maka cirri shadiq ia beramal terus menerus karena Allah ,dalam berbagai situasi dan kondisi. Berbeda dengan orang yang bukan shaadiq ia beramal satu atau dua hari, lalu jika berduyun duyun orang datang kepadanya ia teruskan dan jika tidak iapun meninggalkannya.

2.MEMAHAMI DO’A

Ibnu “Atha’Illah berkata : “Janganlah lambatnya pengabulan doa doamu menyebabkan putus asa.DIA member jaminan kepadamu untuk mengabulkan segala perkara yang DIA kehendaki. Bukan perkara yang kau kehendaki. DIA mengabulkan diwaktu yang DIA inginkan dan bukan yang kau inginkan.

Terus menerus meminta suatu hal adalah berulang ulangnya hal itu dari satu sisi. Doa adalah permintaan yang disertai etika seorang hamba kepada Allah.Yang mengabulkan adalah yang menjadi sumber dalam keberadaan segala sesuatu (Allah), putus asa berarti putus pengharapan.Ketahuilah bahwa salah satu dari sekian nama Allah adalah AL-Qoyyum, kata itu memiliki konotasi makna yang lebih dibanding Al-Qiyam (mengurus makhluk).Sesungguhnya Allah mengurus urusan makhlukNYA mulai ‘arsy sampai farsy.Untuk semua yang terjadi,DIA telah menentukan waktu yang dibatasi dan batas waktu yang pasti,dan setiap makhluk mempunyai bentuk yang pasti dan rezeki yang telah dibagi.Allah berfirman :

وَلِِكُلِّ اُمَّةٍاَجَلٌ فَاِذاجَاءَاَجَلُهُمْل لاَيَسْتَأْخِِرُوْنَ

سَاعَةًوًَلاَيَسْتَقْدِمُوْنَ

“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu).Apabila ajalnya tiba,mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaatpun”.(Al-A’raf :34).

Jika hatimu terpaut dengan kebutuhan kebutuhan dunia dan akhirat, maka kembalikanlah kepada janji Allah,puaslah dengan ilmunya jangan tamak.Meskipun harus berdoa,jadikan doamu sebagai ibadah,bukan semata mata meminta bagian.Jika kau meninggalkan bagian-bagian (dunia) mu,maka bagian bagian itu akan menghampirimu.Jika inspirasi untuk mencari selalu membayangimu,kemudian kau meminta sesuatu dan waktu pengabulannya terlambat, maka jangan bimbang akan janji Allah.DIA berfirman :

وَقاَلَ رَبُّكُمُ اُدْعُنِِى اَسْتَجِِبْ لَكُمْ…..

“Dan Tuhanmu berfirman: berdo’alah kepadaKU niscaya akan AKU kabulkan bagimu”.(Al Mukmin : 60)

Jangan putus asa dari anugerah dan pemberianNYA.Sesungguhnya Allah telah menjamin akan mengabulkan doa untuk kebaikan dunia dan akhirat sebagaimana yang DIA kehendaki kadang karena sayang kepadamu,DIA mencegahmu untuk mendapatkannya, karena yang kau pinta tidak layak untukmu.Firman Allah dalam surat Al-Qashas: “Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang DIA kehendaki.bagi mereka(manusia) tidak ada pilihan.Maha tinggi DIA dari apa yang mereka sekutukan”.(Al-Qashash ;60 ) .Sebagian ahli tafsir menjelaskan ;bahwa ma dalam surat itu adalah ma “maushulah”,yang berarti DIA memilih urusan yang didalamnya ada kebaikan untuk mereka.Terkadang Allah mengabulkan dan menetapkan – untuk mengganti permintaan itu –dengan perkara yang lebih maslahat dan lebih bermanfaat untuk kita.DIA memberikannya kepada kita diwaktu yang DIA kehendaki,bukan diwaktu yang kita kehendaki.kadang DIA menunda permintaan kita untuk kemudian diberikanya di negeri kemulyakan dan kekekalan (akhirat)..Hal itu jauh lebih baik dan lebih kekal untuk kita.Rosullullah bersabda : “Tidaklah orang yang berdoa kecuali dia berada diantara tiga keadaan;yaitu ;antara dipercepat pengabulan permintaanya, pahalanya disimpan untuknya, atau dihilangkan kejelekannya yang setara dengan permintaanya”.

وَعَنْ أنْسِرَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِِ النَّبِيِّ ،قَالَ:

مَامِنْ دَاعِِ يَدْعُوإِلاَّ اِسْتَجَابَ الَّله لَهُ دَعْوَاتَهُ أوْ

صَرَفَ عَنْهُ مِِثْلَهاَسُوْءًااَوْحَطً مِِِنْ ذُنُوْ بِِهِ بِِقَدْرِِهاَ

مَالَمْ يَدْعُ بِِإِِثْمِِ أَوْقَطِيعَةِ رَِِ حِِمِِ.

(Dari Anas ra,dari nabi saw,beliau bersabda:Tidaklah seorang berdoa dengan suatu doa melainkan Allah pasti mengabulkannya;atau dipalingkannya darinya keburukan yang setara dengan yang dimohonkannya;atau dihapus dosa dosanya setara dengan apa yang ia doakan (mohonkan) selama ia tidak berdoa dengan suatu dosa atau memutuskan silaturahmi) .(HR Tirmidzi dari Abu Hurairah ra)

Syeikh ‘Abdul ‘Aziz Mahdawi berkata : “Barang siapa dalam doanya tidak melepaskan pilihannya,tidak rela dengan pilihan Allah maka dia termasuk orang yang kepadanya dikatan :”Penuhilah permintaannya,aku tidak senang mendengarnya”,tapi jika doanya disertai dengan pilihan Allah,bukan pilihanya sendiri,berarti doanya dikabulkan walau tidak diberikan apa yang dia minta,karena segala perbuatan ditentukan akhirnya.Dia (Allah) pasti menepati janji dan menganugerahi apa yang telah dijanjikan dengan cara dan pada waktu yang DIA kehendaki.DIA menyuruhmu untuk membenarkan dan mempercayai realisasi itu, serta melarangmu merasa bimbang , agar dengan semua itu sempurnalah keterbukaan mata hatimu,dan cahaya jiwamu akan bersinar.Syeikh Ibnu ‘Atha’illah berkata : “Janganlah ketidak munculan sesuatu yang dijanjikan,walau telah tertentu waktunya,membuatmu meragukan janji Allah.Dengan demikian,hal itu tidak membuat cacat mata hatimu, dan tidak memadamkan cahaya jiwamu”.

Hadits Rosulullah menerangkan :

يُسْتَجاَبُ لآَِ حَدِ كُمْ مَا لَمْ يُعَجِّلْ،فَيَقُوْ

لُ قَدْ دَعَوْ تُ فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِي

(Doa salah seorang dari kalian pasti dikabulkan selama ia tidak tergesa gesa, dengan mengatakan :”aku telah berdoa.namun belum dikabulkan untuku”.)