sebagian pembaca blog ini mengrim email dan bertanya kepada kami, bagaimana mengawali perjalan menuju Allah (tasawuf),dari mana mengawalinya dan bagaimana.Sebuah pertanyaan sederhana namun penting danjawabanya cukup pelik dan rumit.Saya agak merenung dan berfikir dalam kapasitas apa saya menjawab , kenyataanya saya bukanlah pakar ilmu tassawuf,juga bukan guru syeikh atau mursyid,saya seorang hamba Allah yang sedang berjuang untuk memndekati Allah,apa yang saya jalankan menurut petunjuk ayah yang tentu sya anggap sebagai guru sya.bapak saya (termasuk saya) sebenarnya tidak punya niat untuk belajar tasawuf bahkan sampai sekarang bapak banyak yang tidak tahu tentang istilah istilah tasawuf,Tetapi ……..Yang terjadi pada diri kami adalah saat itu bapak menjalankan syariat syariat islam amalan sesuai ketentuan hukum syariat ibadah ibadah sesuai ajaran sayriat(qur’an dan sunah rodululloh) hal itu dilakukan secara konsisten dan terus menerus tanpa kenal lelah dan dalam kondisi apapun.dengan disiplin tinggi dan setelah hal tersebut dilakukan puluhan tahun Allah menurunkan apa yang saya anggap maunah ( pertolongan Allah kepada hambanya yang shaleh).sehingga Allah menyingkapkan sedikit tabir/ hijab, dan bermunculah ilmu ilmu langsung dari Allah ( diantaranya diziinkan bertemu dan berdialog secara sadar( bukan dalam mimpi )dengan Muhammad rosululloh saw.termasuk sahabat empat,(silahkan baca true storynya) dizinkanNYA beliau bisa bertemu dan berdialog dengan para arwah khususnya para waliullah ,hal inilah (bagi saya yang mengikuti perjalanan dari awal sampai sekarang) menjadikan pertanyaan dalam batin saya, apa sebenarnya yang dijalankan oleh bapak , kalau ini disebut ilmu lalu ilmu apakah yang dijalankan bapak saya ini ? setelah melalui proses panjang dari buku2 bacaan, saya sadar apa yang telah dijalankan bapak sebenarnya seperti yang dijalankan para sufi dalam menempuh perjalanan rohani nya dan akhirnya saya berkesimpulan bahwa sebenarnya perjalan rohani bapa adalah perjalan rohani seorang salik seperti yang diajarkan dalam tasaawuf.Sejak saat itu saya tertarik membaca literatur literatur tasawuf dan kemudian saya bandingkan dengan pengalaman saya mendampingi dan mengamati bapak dalam perjalanan rohaninya,sampai saat ini

Tulisan berikut kami sadurkan dari beberapa buku terjemahan yang saya anggap agak mudah difahami antara lain karya Syeikh Sa’id hawa “Syarah al Hikam “dan juga beberapa buku tasawuf lainya ( kami akan kumpulkan tersendiri dalam daftar bacaan ).Harapan saya tulisan ini bisa menjadikan jawaban atas pertanyaan atau paling sedikit dapat memberi gambaran kepada saudara dan sahabatku yang ingin memulai perjalanan ruhaninya kehadlirat Allah SWT ( semoga Allah memberi petunjuk).Tentu tulisan ini bukan jawaban seorang pakar atau seorang guru kepada murid tetapi lebih sebuah sharing /tukar pengalaman dan sedikit pengetahuan kepada saudaranya.Dan tentu saja tidak untuk menggurui.Se moga Allah memberi petunjuk pada kami dan mengampuni apabila ada kesalahan dalam tulisan ini,sehingga tulisan ini bermanfaat paling tidak untuik diriku.Dan kepada sahabat dan saudarku yang menjalani perjalanan ruhani semoga Allah selalu membimbing dan member petunjuk.seperti janji Allah dalam surat an Nur :54 : ” APABILA KAMU SEKALIAN TAAT KEPADA –NYA MAKA KAMU SEKALIAN AKAN MENDAPAT PETUNJUK “.dan juga dalam surat al ankabut :69: “DAN ORANG ORANG YANG BERMUJAHADAH (bersungguh sungguh) dalam (agama) KAMI,MAKA KAMI AKAN MENUNJUKI MEREKA JALAN JALAN KAMI,DAN SESUNGGUHNYA ALLAH BESERTA ORANG ORANG YANG BERBUAT BAIK “.

TAHAPAN DAN RAMBU RAMBU MENGAWALI PERJALAN AN RUHANI

Ibarat sebuah perjalanan panjang ,jika kita ingin mengarungi perjalanan maka agar selamat sampai tujuan, diperlukan rambu rambu yang mempermudah dan sekaligus menjaga agar selamat sampai tujuan dan tidak tersesat .Demjikian juga dengan perjalan rohani kita perlu mengenal lebih dulu rambu rambunya .Syeikh Ibn ‘Athailla as sakandari dalam al Hikam nya ( yang kemudian diberi penjelasan oleh Syeikh Sa’id hawa ) berkata : “SALAH SATU KEBERHASILAN PADA AKHIR PERJALANAN (tasawuf)ADALAH KEMBALI (BERSANDAR) KEPADA ALLAH SEJAK PERMULAAN “.

Syeikh Ibn ‘Athaillah menekankan bahwa jika ingin kesudahan perjalan dengan benar, maka mulailah dengan permulaan yang benar pula.Awal pendakian yang benar adalah jika seseorang berpijak kepada petunjuk Allah.Bila perjalananmu diawali dengan kembali kepada Allah maka kesudahan akan menjadi baik dengan izin Allah.

Menurut syeikh Sa’id Hawa Kembali kepada ALLAH ketika mulai berjalan menuju Allah lebih dari satu macam bentuk dan pengertian.Bisa bermakna kembali kepada hukumNYA, hingga awal perjalanan hendaknya sesuai dengan hukum syara’.Apabila engkau berangkat tidak dari hukum syara’ maka engkau tidak akan sampai pada kesudahan yang benar..Jadi kita mesti berhukum dengan dasar syara’ sejak titik keberangkatan, dan hal ini akan tercapai jika diperoleh ilmu yang dapat menjaga agar tidak jatuh dalam kesalahan atau kesesatan.seperti kata sebuah ungkapan ahli hikmah : ‘BARANG SIAPA YANG BERTASAWUF TETAPI TIDAK BERFIQIH,MAKA IA TELAH ZINDIQ ( ATHEIS).DAN BARANG SIAPA YANG BERFIQIH NAMUN TIDAK BERTASAWUF MAKA IA TELAH MENJADI FASIQ’

Juga sebuah petuah para syeikh : Wahai anaku jadilah ahli hadits yang sufi, dan janganlah menjadi sufi yang ahli hadits.

Karena itu mulailah dengan ilmu setelah itu bertasawuf,seorang yang mengawali dengan ilmu lantas bertasawuf maka ia berjalan dengan bashirah ( pandangan hati ),dan ia tidak membawa belbagai nash ke dalam tasawuf.Adapun orang yang memulai dengan tasawuf dan kemudian baru ilmu,terkadang ia mendudukan nash nash tidak dengan proporsinya.

Makna yang lain adalah : sebelum melakukan sesuatu seseorang hendaklah istikharah (mohon pilihan yang sesuai) kepada Allah.Konsep kembali kepada Allah pada awal perjalanan meliputi istikharah,menyempurnakan hubungan dengan Allah,dan bersandar kepadaNYA dalam menekuni sesuatu yang kita inginkan, hingga kita merasa tenang karena Allah ridlo ketika kita menempuh perjalanan ini.

Konsep kembali kepada Allah itulah menjadi salah satu rambu pokok dalam menempuh perjalan rohani

Selanjutnya Didalam Buku ‘Jalan Kearifan sufi Secara sistimatis ilmiah DR.Yunasril Ali MA memberi gambaran sistematis bila seorang mau mengawali perjalanan rohani TASAWUF : menurut beliau ada dua tahap dalam upaya yang dapat dilalui oleh penempuh perjalanan :

Tahap Pertama : melalui berbagai amal yang dapat menyucikan qalbu.Bagian ini biasa disebut tasawuf ‘ammali (tasawuf ppraktis).Al gazali menyebutnya ‘ilm mu’amalah ( pengetahuan praktis).tasawuf tahap pertama ini terdiri dari dua bentuk.kesatu dalam bentuk disiplin diri dan peningkatan amal amal qalbu.Disini si salik (penempuh jalan rohani ) berupaya mensucikan qalbunya dari segala bentuk ikatan duniawai (yang berlebihan) sehingga secara bertahap kesucian rohaninya akan meningkat dari satu maqam ke maqam yang lebih tinggi,berbarengan semakin tinggi pula keluhuran akhlaknya.Karena itu tasawuf dalam tahap ini disebut tasawuf akhlaqi ( tasawuf akhlaq).Pada maqam tertinggi sisalik akan terbebas dari belengu belenggu material sehingga dia benar benar merasakan hidup bersama Allah.

Bentuk kedua dari tahapan tasawuf ‘ammali adalah ; dalam bentuk amal amal jasmani berupa shalat, puasa, zikir , wirid dana lainya ( menurut syariat islam ).Disini sisalik akan berupaya segala amal tersebut dalam tiga disiplin ; Syariah, thariqah dan hakikah.pada disiplin syariat salikn berupaya segala bentuk amal sesuai dengan hukum legal formal (sesuai dengan syariat islam),Tidak hanya itu amal amal itu harus dapat dilakukan secara sempurna dan tepat sesuai petunujuk guru/pembimbingya.Dengan melaksanakan segala amal itu secara sempurna, maka salik akan mencapai tujuan amal itu dalam disiplin haqiqah.Dan muara segalanyan itu adalah pada MA’RIFAT ALLAH (mengenal Allah ) secaralangsung melalui mata bathin tasawuf bentuk kedua ini disebut Tassawuf ‘Ubudi ( tasawuf ibadah ).Amal amal dalam tasawuf ibadahn ini adalah amal untuk menopang menyucian rohani, sehingga si salik bisa secepatnya sampai pada tujuan yakni Allah.Dalam disiplin tasawuf segala amal itu harus dilakukan secara sungguh sungguh ( mujahadah) dan dengan pelaksanaan yang teratur ( Riyadhah).Denga melalui jalan itulah salik akan mencapai musyahadah ( penyaksian ketuhanan).istilah musyahadah identik dengan dengan ma’rifah yakni penyaksian tuhan secara langsung,namun bukan secara fisik tetapi melalui rohani.Alqur’an menyebutnya LIQA'(pertemuan ), seperti diungkapkan dalam ayat :” BARANG SIAPA MENGHARAP PERTEMUANYA DENGAN TUHANNYA,MAKA HENDAKLAH IA MELAKSANAKAN AMAL SALEH DAN JANGANLAH IA MENYEKUTUKAN SESUATU PUN DALAM BERIBADAH KEPADA TUHANNYA ( Surat al Kahf 18 : 110 ).

Tahap kedua : Ketika perjalanan rohani salik telah mencapai tahap tahap puncak, disini ia akan menemukan berbagai pengalam rohani yang unik, yang sebagian dapat diungkapkan kepada khalayak ( umum) sementara yang lain tidak karena keterbatasan media hbahasa untuk mengungkapkannya, maka pada tahap ini sufi hanya bisa berdiam diri atau mengatakan : “RASAKAN SENDIRI BARU ANDA MENGERTIN “.Sehubungan dengan inilah Abu huraryah r.a menerima hadis dari nabi saw: “aku menghapal dua wadah ilmu dari rosulullah saw. Yang satu kuterangkan dan yang lain ( Tidak kuterangkan ),seandanya kuterangkan maka leherku akan dipotong orang ” ( HR.Bukhari )

Tasawuf tahap ini disebut tasawuf nazhari ( taswuf teoritis) atau tasawuf falsafi ( tasawuf filosofis ) dimana salik atau sufi telah mencapai pertemuan rohani dengan tuhan, merasakan kehdiran Allah dan mendapatkan pengalaman rohani yang begitu kaya bersamaNYA.menurut al gazali inilah puncak kebahagiaan yang oleh insan dalam hidupnya.Pengetahuan yang diperoleh dari pertemuan dengan Allah biasa disebut : ‘ILM al LADUNNI ( pengetahuan yang bersumber langsung dari ALLAH ) atau ‘ILM al ASRAR (pengetahuan rahasia).Al ghazali menyebutnya ‘ILM MUKASYAFAH ( pengetahuan yang merupakan hasil tersingkapnya hijab antara manusaia dan ALLAH ).

Syeikh Zainudin Bin Ali al Malibary,menjelaskan tahapan dalam menempuh tasawuf lebih rinci dan menurut saya mungkin lebih mudah difahami dalam praktek anatara lain beliau memberi kan kata hikmah yang dikenal dengan “SEMBILAN WASIAT “:”Barang siapa yang sengaja memasuki jalan (yang ditempuh) para wali,maka hendaklah melaksanakan wasiat wasiat ini dan sekaligus mengamalkan.

Bila sembilan wasiat itu sudah diamalkan,maka ia dibukakan hatinya oleh Allah pada pintu kefahaman,dilapangkan dadanya dengan ilmu ilmu yang dapat menyingkapkan tabir yang menutup hatinya dalam berhubungan dengan Allah,sehingga tampaklah nur ma’rifatbillah.

  1. TAUBAT
  2. QONA’AH
  3. ZUHUD
  4. MEMPELAJARI ILMU SYAR’I
  5. MEMELIHARA AMALAN AMALAN SUNAT
  6. TAWAKAL
  7. IKHLAS
  8. UZLAH
  9. MEMELIHARA WAKTU

Penjelasan rinci tiap tahap diatas memerlukan keterangan panjang insyaAllah akan kami tulis dalam bab tersendiri sehingga kita akan lebih jelas bagaimana mengamalkan tiap tahap teresbut diatas.