03 Mei 2010

5:13 Ketenangan mengikuti takdir tanpa merencanakan dan memilih,yaitu tidak menyegerakan sesuatu yang seharusnya lambat,atau mengundurkan sesuatu yang seharusnya cepat,akan tetapi mengarahkan pandangan dengan unsur "qudrah"yang nampak dan menerimanya dengan makrifat adalah sumber etika /adab.dan itu merupakan buah dari amal menurut Ibn ‘Atha’illah.

Amal adalah istilah untuk menyebut gerak badan.Dan "al-Waridat wa al ah-wal (inpirasi Illahi yang menggerakan hati) istilah untuk mnyebut gerakan hati. Amal terbagi dalam beberapa bagian sesuai waridat wal al ahwal.Al khatir, al warid ( inspirasi),dan al-hal bertempat di hati.Ide ide sering timbul dalam hati,baik ide cemerlang maupun ide ide kegelapan,hal ini disebut :"khatir"jika ide yang ada dalam hati adalah ide baik disebut :"warid"atau "hal".Jika suatu keadaan menetap terus menerus ia disebut,"Maqam".

     Sesuai kondisi batin amal lahir terbagi dalam beberapa bagian.atau dengan kata lain amal lahiriyah akan mengikuti kondisi hati.Apabila hati dalam kondisi lapang,maka badan nampak segar dan bergairah serta semangat,sebaliknya bila hati sedang sedih,sempit, pengaruhnya akan nampak dalam tubuh yaitu murung dan sedih.Demikian juga bila hati dalam keadaan "zuhud" dan "waraq" maka timbul sikap menarik diri dari gemerlapnya dunia.Bila keinginan dan sikap tamak timbul di hati,maka akan menimbulkan sikap keras dan merasa letih.sebaliknya bila dihati tumbuh rasa cinta dan rindu,akan terasa mabuk dan menari nari.Bila kondisi hati sedang timbuk makrifat dan kehadliran ( hudlur) maka badanpun akan diam dan tenang.demikian juga dengan berbagai ah-wal serta amal lain yang muncul.

Amal akan nampak secara lahiriah,sedangkan ahwal(inpirasi yang menggerakan hati) bergantian masuk dalam hati.Terkadang hati didominasi oleh suatu hal sehingga yang nampak pada amal hanya satu,jika seorang didominasi rasa sempit maka lahiriah nampak murung,dalam waktu yang lain mungkin hati didominasi rasa lapang maka yang nampak amal lahiriah gembira dan muka yang berseri seri.denmikian hal yang lain.

Rasulullah pernah bersabda:"Sesungguhnya dalam jasad ada sekerat daging,Jika itu baik,maka semua jasad pasti baik dan jika sekerat daging itu rusak,maka rusak pula seluruh jasad,ingatlah sekerat daging itu adalah Hati.

     Berlandaskan hadis diatas ,maka setiap sufi mempunyai ahwal berbeda beda;mungkin seorang termasuk ahli ibadah,yang lain orang zuhud,atau ahli wara’ ada juga orang yang disebut"murid"(yang menginginkan apapun yang diingini dan diridlai Allah),dan juga ada orang ‘arif.Jika orang cenderung mantap dan tekun dalam beribadah,maka dia disebut abid (ahli ibadah),ada juga mengambil ahwal maka dia termasuk wara’,jika tekun memilih bagian meninggalkan untuk mencari selamat,maka dia seoranag zahid(orang yang zuhud).dapat juga orang itu disebut ‘arif (ahli makrifat)karena melepas nafsu karena Allah.dan disebut Murid jika memilih untuk "takhaluq"(beraklaq dengan akhlaq Allah) dan "ta’alluq"(bergantung pada Allah).

     Menurut ibn ‘Atha’illah:"perbedaan jalan tidak meniscayakan tujuan .Jalan dapat berbeda namun tujuannya satu yaitu mendekatkan diri pada Allah.Makrifat,ibadah dan zuhud misalnya adalah cara yang mulia untuk mendekatkan diri pada Allah,semuanya saling melengkapi.Seorang ‘arif misalnya haruslah beribadah jika tidak makrifatnya tentu tidak berarti karena dia tidak menyembah dzat yang dia kenali.dia juga harus bersikap zuhud agar kebenaranya berarti dan tidak berpaling dari selain Allah.Tidak ada ibadah tanpa makrifat oleh karenya seorang ‘abid harus menjalankan makrifat,demikian juga harus melakukan zuhud agar tenang dalam ibadah.’Abid zahid,dan ‘arif semuanya adalah SUFI…..Wallahu ‘alam