Sunday, May 12, 2013

6:00 AM

Muroqabah berasal dari bahasa arab ‘Raqaba’ (mengawasi ) Abu yahya Zakariyya al anshari rahimallah( 926 H/ 1520 H) memaknai ;selalu memperhatikan, sedangkan menurut istilah adalah senantiasa memandang Tuhan dengan hati (Qalb)

Muraqabah adalah duduk ber tafakur dengan penuh kesungguhan hati, seolah olah berhadapan dengan ALLAH,menyakinkan diri bahwa Allah senantiasa mengawasi dan memperhatkan nya. Dengan latihan muraqabah ini seorang akan memiliki nilai IKHSAN yang baik.dan akan dapat merasakan kehadiran Allah dimana saja dan kapan saja disetiap sudut pandang seorang hamba Allah .

Syech Yahya Ibn hamzah al Yamani ,rahimalla (668 – 749 H ) menyebutkan hakekat muraqabah adalah;mengawasi pengawasan sang PENGAWAS dan mengarahkan perhatian kepadanya ;orang yang waspada dari satu hal karena orang lain dikatakan, bahwa ia mewaspadainya dan menjaga pihaknya.

Didalam eksiklopedi tasawuf disebutkan;menurut Mir Valiuddin ( w 1975 ) Muraqabah adalah kesadaran tentang Allah yang senantiasa mengawasi kita di saat kita tenggelam dalam berbagai kesibukan se hari hari.Allah melihat segala aktivitas kita ,baik lahiriah maupun batiniah termasuk segenap pikiran kita.

Tidak ditemuknan Kata muraqabah di dalam Alqur’an.tetapi yang seakar dengan muraqabah, adalah kata “raqib”, seperti firman Allah :

.و كان الله علي كل شي ء رقيبا……… “Allah maha mengawasi segala sesuatu ( al ahzab /33:52) dan friman Allah : ما يلفظ من قو ل الا لد يه رقيب عسيد ………………………………………. “Tiada ucapan yang diucapkannya melainkan ada malaikat pengawas yang selalu hadir (Qaf /50:18).Ayat yang dijadikan dalil muraqabah oleh para sufi seperti disebutkan dala kitab ihya ulumuddin al Gazali (semoga dirahmati ruhnya).Allah berfirman :” maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya……………...” ( al Ra’ad/13;33). ا لم يعلم با ن الله يراى
“tidaklah DIA mengetahui bahwa sesungguhnya ALLAH melihat segala perbuatanya? “( al’ alaq /96;14). “…..Sesungguhnya Allah selalu megawasimu (annisa /4;1).

Hadis yang dijadikan sandaran Muraqabah adalah hadis ‘Jibril” yng menyebutkan jibril mendatangi rosululloh dan mengajarkan iman , islam dan ikhsan,Jibril menjelaskan : ……..Ikhsan yaitu hendaknya engkau mengabdi kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya.(tetapi) jika engkau tidak melihatNYA,maka sesungguhnya DIA melihatmu.(HR Muslim.al Tirmidzi,Abu dawud dam Annasa’i).

Sebagai bagian yang benilai latihan psikologis (riyadlah al nafs) muraqabah berarti menanamkan keyakinan yang dalam akan makna firman tersebut diatas.Berbeda dengan zikir, obyek pemusatan kesadarannya adalah menjaga atas makna ,sifat qudrah dan iradah Allah swt.media yang digunakan dalam muraqabah adalah kesadaran murni berupa imajinasi dan daya khayali.

Jadi yang dimaksud muroqobah adalah kondisi hati yang menghasilkan makrifat kepada Allah dan kondisi tersebut membuahkan berbagai amal kebaikan dalam tubuh, berupa tindak ketaatan dan menahan diri dari maksiat.

Tujuan akhir dari muraqabah adalah agar seorang menjadi mukmin yang sesungguhnya,seorang hamba Allah yang Muhsin dapat menghambakan diri kepadaNYA.Ibadah dengan penuh kesadaran seolah olah melihatNYA.dan didalam tarekat naqsibandiyah qadariyah meyakini Muroqobah adalah asal semua kebaikan, kebahagiaan, dan keberhasilan.

PORSES MURAQABAH

Didalam kitabnya”Tashfiyat al Qulub min Daran al awzar wa alDzunub” Syeikh Ibn Hmzah al Yamani al Dzimari ,Rahimullah menyebutkan;ada dua proses dalam laku muraqabah ;sebelum dan saat bertindak

  1. Proses yang terjadi sebelum Bertindak

    Si pelaku memperhatikan apa yang telah tampak kepadanya,yang menggerakan keinginannya dan muncul di dalam diriya.Apakah murni karena Allah atau untuk mengikuti hawa nafsu dan setan.Jika amal itu murni karena Allah,ia melakukannya dan bersegera dalam melakukannya.Tapi apabila amal itu untuk yang selain Allah, ia malu kepada ALLAH dan menahan diri dari amal tersebut.ini terjadi di permulaan.

    Didalam hadis disebutkan ;”Sesungguhny dalam setiap gerak,bagi hamba dibentangkan tiga catatan;catatan pertama ; kenapa? Catatan kedua bagaimana dan catatan ketiga untuk siapa ?.Apa yang melatarbelakangi tindakanmu? Apakah perbuatan itu dilakukan dengan ilmunya atau tidak?Apakah perbuatan itu murni karena Allah atau untuk yang lain?

  2. Proses kedua terjadi saat bertindak.

    Memeriksa kondisi amal untuk memenuhi hak Allah didalamnya,memperbaiki niat di dalam menuntuskan dan meyempurnakan bentuk amalnya,serta memurnikan tujuan hingga ia diridlai Allah dalam setiap perbuatannya..Perbuatan Hamba tidak lepas dari tiga bentuk : Ketaatan,Maksiat atau hal yang mubah.Pada perbuatan maksiat, muraqabahnya adalah dalam menahan diri darinya.Pada ketaatan ,muraqabahnya adalah ikhlas dan penyempurnaan amalnya,sedang yang mubah , pengawasanya adalah dengan menjaga adab dan melaksanakan syukur kepada Allah.

    Syeikh Abdul karim al Qusyayry.menceriterakan ; seorang seikh mempunyai beberapa murid,dan ia lebih menyukai salah seorang dari mereka , sehingga memberi perhatian lebih dari murid yang lainya.Ketika ditanya tentang hal itu ia menjawab : ” Aku akan unjukan kepadamu mengapa aku bersikap demikian “.kemudian syeikh itu memberikan seekor burung kepada setiap muridnya. Lalu memerintahkan kepada mereka :”Sembelihlah burung yang aku berikan itu di suatu tempat yang tidak terlihat siapapun.!” lalu mereka semua berangkat melaksanakan perintah syeikh. Kemudian setelah beberapa saat, masing masing kembali lagi dengan membawa sembelihannya,akan tetapi murid kesayangan itu kembali dengan membawa burung tersebut dalam keadaan masih hidup ( tidak disembelh ).”Mengapa engkau tidak menyembelih burung itu ” Kata syeikh kepadanya;lalu murid itupun menjawab : “Tuan memerintahkan saya menyembelih burung ini ditempat yang tidak dilihat siapapun. Dan saya tidak menemukan tempat seperit itu, mendengar jawaban iu syeikh berkata kepada murid yanng lain : “Inilah sebabnya aku lebih memperhatikan kepadanya .(karena tingkat muraqabahnya lebih tingi ;merasa selalu dilihat Alloh dan tak ada tempat yang tidak dapat dilihat Allah ).Wallahu ‘alam

    “Allah mengawasi segala sesuatu….” (Qs al Ahzab 33:52)